JARGON ini sering keluar dari Presiden Gus Dur saat menanggapi berbagai permasalahan bangsa. Nadanyayang khas, seolah menentramkan keadaan pada saat itu. Namun itu hanya di dalam, di luarnya mahasiswa masih saja mendemo Presiden Indonesia yang paling nyentrik ini. Gus Dur mungkin presiden yang cukup terbuka bagi semua kalangan, hal itu ditunjukan dengan terbukanyaakses ke istana negara ketika beliau sedang tidak berkunjungke luar negeri bersama rombonganya. Namun inilah sisi menarik yang tidak kita jumpaidi masa sekarang; kerajaan negara atau biasa disebut objek vital terlalu bersifat tertutup, tidak terbuka. Kalaupun terbuka, kita tidak dengan mudah dapat mengaksesnya. Lain halnya dengan Gus Dur, walikota yang populer di negeri ini, Jokowi, juga memiliki hal yang unik terkait demonstrasi. Pada awal dia menjabat, demonstrasi tidak henti-hentinya digelar di gedung walikota Solo ini. Dia mendengar banyak keluh kesah warga, masyarakat dan mahasiswa. Jokowi mendengarkan dengan seksama, bahkan tak jarang masyarakat dan mahasiswa diajaknya berdiskusi sambil makan siang di kantornya. Lalulihatlah sekarang, kota Solo sekarang sangat sepi dari demonstrasi yang menentang kebijakan walikota. Suatu pernyataan menarik pun keluar dari Jokowi, “Saya sudah kangen didemo,” candanya ketika mengisi acaradi berbagai tempat. Beliau bahkan pernah melayangkan surat ke Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) perguruan tinggi di Solo untuk menanyakan ihwal, mengapa dia tidak lagi didemo, padahal dia menginginkan hal tersebut. Dua hal yang berbeda dari kisah Gus Dur dan Jokowi ialah hasil akhir. Ya, pada era Gus Dur, meskipun Istana Negara cukup terbuka, beliau belum dapat mengoptimalkan kinerjanya. Tidak heran, demonstrasi mahasiswa pun semakin ramai. Sedangkan Jokowi tidak hanya mendengarkan, namun juga bertindak nyata atas segala masukan yang beliau serap dari aspirasi mahasiswa dan masyarakat. Mereka telah membuka ruang dialog, namun hasil yang didapatkan berbeda. Saya selaku mahasiswa yang pernah merasakan beberapa kali turun ke jalan memang mengharapkan suara kami didengar. Mahasiswa ataupun masyarakat mungkin tidak akan merusak fasilitas umum dan sebagainya jika tersedia ruang dialog publik bersama pemerintah untuk mampu bertukar pendapat dan berdialog. Namun hal itu belumlah cukup jika tidak ditindaklanjuti dengan kemajuan dan kinerja yang nyata. Saya rasa mahasiswa dan masyarakat akan lebih menerima hal tersebut sehingga tidak akan terjadi peristiwa anarkisme dalam setiap aksi demonstrasi di negeri ini. Mahasiswa berdemonstrasi itu wajar, sesuai dengan fungsinya sebagai pressure group dan agent of change . Anarkismelah yang seyogianya dapat diredam. Sekali lagi saya harus mengeluarkan jargon khas GusDur, gitu aja kok repot...